Rimba Kosmetik di Era Digital

Tuhan yang cantik, temani aku yang sedang menyepi di rimba kosmetik…
“Doa Seorang Pesolek”

AGAKNYA cuplikan sajak penyair Joko Pinurbo di atas sesuai untuk menggambarkan riuh rendah fenomena penggunaan kosmetik di era digital saat ini. Internet berperan besar dalam perkembangan kosmetik. Teknologi tersebut telah membuat nyaris setiap orang memiliki akses informasi tentang sebuah produk tanpa harus pergi ke gerai-gerai kosmetik. Calon pembeli pun diberikan ruang yang lebih leluasa untuk menimbang dengan saksama sebelum akhirnya membeli produk pendokrak keelokan.

Di dunia maya, informasi dalam berbagai bentuk tentang kosmetik bermunculan untuk memenuhi kebutuhan para pemuja kecantikan, mulai dari iklan, blog, hingga toko daring. Beragam iklan kosmetik dengan mudah dapat kita jumpai di tepi konten yang sedang kita baca. Di samping itu, muncul pula fenomena beauty blogger dan beauty vlogger pada lima tahun terakhir ini. Beauty blogger dan beauty vlogger sendiri adalah mereka yang akan mengulas sebuah produk kosmetik yang telah mereka pakai, baik di blog maupun Youtube.

Bisa jadi berbagi informasi dengan model blog terbilang lebih efektif ketimbang iklan-iklan yang selintas lewat. Dengan gaya narasi atau video, pencari informasi tentang suatu produk dapat merasa lebih dekat dengan barang yang akan dibelinya meskipun mereka tak bisa benar-benar menyentuh produknya. Dengan menyimak ulasan para blogger, calon pembeli merasa lebih diyakinkan sebelum benar-benar membeli kosmetik yang diinginkan. Inilah perkembangan terkini dalam dunia iklan digital.

Fenomena tersebut rupanya juga bersinergi dengan kemunculan toko-toko daring yang mengkhususkan diri menjual kosmetik. Dari toko daring, seperti Sociolla, Mooishe, dan Sephora, para peminat kosmetik dapat langsung membeli produk yang telah tuntas dipaparkan oleh seorang beauty blogger. Keberadaan toko daring semakin melengkapi rantai konsumsi kosmetik di era digital yang terbukti efektif dan efisien.

Usia muda

Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) memaparkan, internet telah digunakan oleh 88,1 juta penduduk Indonesia pada akhir 2014 dengan peningkatan 34,9 persen dari tahun sebelumnya. Dari tahun 2005, angka penetrasi terus meningkat dengan jenis pengguna mulai dari pelajar, mahasiswa, pekerja, hingga ibu rumah tangga.

content

Dari aspek usia, pengguna internet terbanyak ada pada rentang usia 18-25 tahun atau yang populer disebut kaum digital native. Kelompok usia muda yang juga memiliki keleluasaan untuk mengakses internet, termasuk mengakses informasi tentang kosmetik, membuat jenjang usia pengguna kosmetik pun kian melebar. Kini, wajar dijumpai perempuan berusia sekolah menggunakan kosmetik untuk menunjang penampilan. Berbeda dengan masa sebelum 1990, perempuan sekarang semakin dini memanfaatkan kosmetik.

Dalam jajak pendapat Kompas yang diselenggarakan pertengahan Mei lalu, hampir seluruh responden (92,7 persen) sepakat menyatakan bahwa perempuan saat ini mengenakan kosmetik di usia yang lebih muda dibandingkan generasi yang lahir sebelum 1990. Pernyataan itu terutama disuarakan oleh 69,7 persen responden yang berusia lebih dari 35 tahun yang notabene memiliki pengalaman tentang bagaimana perilaku berkosmetik para perempuan pada masa mudanya dulu.

Fenomena ini tidak lepas dari fakta bahwa internet membuka dunia menjadi tanpa batas sekaligus menjadi referensi dalam mendapatkan informasi tentang apa pun, termasuk kosmetik. Informasi dari internet bisa mengubah cara seseorang memandang kecantikan dan kosmetik. Hal ini didukung oleh pandangan mayoritas responden jajak pendapat yang mengakui bahwa internet memengaruhi cara orang menggunakan kosmetik.

Di dunia maya, Youtube dan beauty blogger bersinergi dalam melebarkan rentang usia pengguna kosmetik. Tidak hanya video cara menggunakan kosmetik, terdapat pula video kosmetik yang secara khusus ditujukan kepada anak yang masih duduk di bangku sekolah. Ketikkan saja kata kunci “make up for school“, akan muncul berderet panjang video cara berdandan untuk ke sekolah secara profesional. Mengapa profesional? Karena umumnya sekolah melarang siswanya menggunakan kosmetik.

Dengan jenis produk dan cara berhias tertentu, riasan yang digunakan untuk pergi ke sekolah akan tampak sangat natural. Bulu mata akan terlihat lentik dengan maskara transparan, pipi akan tampak merona tanpa terkesan menor, dan lain sebagainya. Imajinasi bahwa menggunakan make up secara profesional hanya digunakan ke pesta atau oleh orang yang sudah dewasa tidak berlaku lagi. Siapa saja dan kapan saja dapat memakai make up secara profesional.

Media sosial Youtube menjadi wadah untuk berbagi tutorial atau disebut DIY (do it yourself) yang dapat ditiru oleh pemirsanya. Anak perempuan tidak perlu merengek minta diajari menggunakan kosmetik oleh ibu atau kakak perempuannya. Ia hanya cukup mengetikkan kata kunci “make up untuk pemula” atau “make up untuk kondangan” pada gawai yang tersambung dengan internet dan sederet video akan muncul memandunya.

Pasar kosmetik

Survei APJII menunjukkan bahwa proporsi perempuan pengguna internet mencapai 51 persen. Para perempuan ini umumnya menghabiskan lebih dari satu jam untuk berselancar di dunia tidak terbatas tersebut. Hadir pula toko daring yang menyediakan apa saja kebutuhan mereka. Dalam Statistik 5 Tahun Tokopedia, salah satu toko daring, diungkapkan bahwa proporsi konsumen perempuan (53,7 persen) lebih tinggi dibandingkan laki-laki (46 persen). Sementara dari aspek nilai transaksi, perempuan mendominasi nilai transaksi dengan 60,5 persen, sementara laki-laki hanya 39,5 persen.

Fakta ini diikuti dengan makin beragamnya produk kosmetik. Kini, setidaknya ada enam peranti yang biasa digunakan hanya untuk membuat mata terlihat “segar” dan “bangun”. Peranti tersebut misalnya saja pensil alis, eye primer, perona mata, eyeliner, maskara, dan concealer. Produk kosmetik, menurut survei APJII, menduduki peringkat kedua sebagai produk yang paling sering dikonsumsi dari belanja online setelah produk busana.

Media sosial seperti Instagram dan Path menjadi sarana perempuan. Seusai menonton video, membeli kosmetik, para pengguna kosmetik akan mempraktikkannya kemudian mengunggahnya di media sosial. Ini menjadi sebuah siklus yang membuat produk kosmetik yang beragam makin diminati.

Nilai transaksi toko daring di Indonesia pada 2015 mencapai 3,22 miliar dollar AS dan diprediksi meningkat dua kali lipat pada 2016. Angka ini memperlihatkan bahwa produk kecantikan yang menempati urutan kedua produk dan paling banyak dicari memiliki pasar yang sangat menjanjikan sekaligus telah menjadi produk kebutuhan sehari-hari.

Produk kosmetik diakui oleh 73,7 persen responden jajak pendapat sebagai alat mempercantik diri yang sangat penting bagi perempuan, terutama jika mereka akan bepergian. Mayoritas responden juga mengakui bahwa sepantasnya kosmetik mulai digunakan perempuan ketika mereka telah menamatkan jenjang sekolah menengah. Artinya, kosmetik bukanlah hal buruk ketika digunakan oleh orang yang tepat dan dalam situasi yang cocok pula.**

Sebelumnya dimuat di Kompas, 7 Juni 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s