La ficción

“Many a book is like a key to unknown chambers within the castle of one’s own self”
Franz Kafka

ANTUSIASME masyarakat membaca karya fiksi menjadi semangat baru untuk meningkatkan budaya literasi di Indonesia. Berdasarkan riset yang dilakukan Central Connecticut State University pada tahun 2016, literasi Indonesia menduduki posisi ke 60 dari 61 negara yang diteliti. Dari indikator yang digunakan, rendahnya tingkat literasi di Indonesia disebabkan oleh kurangnya budaya membaca dan tidak maksimalnya sumber daya pendukung seperti perpustakaan, surat kabar, pendidikan, dan ketersediaan internet.

Hasil tersebut cukup masuk akal mengingat waktu rata-rata yang dihabiskan masyarakat Indonesia untuk membaca buku masih sangatlah rendah. Jika dibandingkan dengan standar UNESCO, yaitu 4-6 jam, waktu rata-rata orang Indonesia membaca hanya 2-4 jam sehari (Kompas, 20/4/2016). Ketersediaan perpustakaan yang dihadirkan secara daring pun belum mampu menggaet minat publik untuk membaca buku. Masyarakat tidak lagi membaca tulisan panjang seperti di surat kabar dan beralih menjadi pembaca digital. Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan misalnya, mengatakan bahwa generasi literasi saat ini hanya literasi membaca pesan dari media sosial seperti Whatsapp Messenger dan itu bukanlah hal yang menggembirakan (Kompas, 30/8/2016).

Di tengah budaya membaca yang “luruh kuncup sebelum berkembang”, oase kesejukan muncul dari minat masyarakat dalam membaca fiksi. Hasil jajak pendapat Kompas merekam 72 persen publik menyukai membaca karya fiksi. Publik juga menunjukkan minat yang signifikan untuk mendatangi pameran buku, baik yang berskala nasional maupun internasional. Hasil ini menjadi tanda bahwa motivasi masyarakat untuk membaca secara serius masihlah ada.

Pilihan medium membaca bukupun masih pada buku berbasis kertas. Hasil yang cukup mengejutkan adalah bahwa 71,2 persen kelompok umur digital natives (17-25 tahun) juga masih meminati buku kertas dibandingkan digital. Geliat ini bisa ditangkap sebagai semangat baru untuk memperbaiki literasi lewat karya-karya fiksi.

Bacaan Fiksi

Dalam dunia perbukuan, buku fiksi menempati posisi kedua dari daftar buku yang paling sering dibeli oleh masyarakat. Dari data terakhir (2014) yang dirilis Ikatan Penerbit Indonesia, fiksi menguasai 13 persen pangsa pasar bersaing dengan sepuluh genre buku lain. Bacaan fiksi sendiri dapat berupa puisi, novel remaja, novel dewasa, kumpulan cerita pendek, ataupun cerita fantasi ilmiah.

Mayoritas publik yang menyukai fiksi menggemari karya dalam negeri, sedangkan 20 persen di antaranya menyukai fiksi asing. Buku fiksi yang digemari secara umum misalnya saja buku-buku terlaris di TB. Gramedia, seperti “Trilogi Dilan-Milea” karya Pidi Baiq, “Hujan” karya Tere Liye, dan “Metropop: The Architecture Of Love” karya Ika Natasha. Sementara itu, karya fiksi asing yang saat ini menduduki tangga best seller adalah “Fantastic Beasts and Where To Find Them”, sebuah fiksi ilmiah yang mengisahkan tentang makhluk-makhluk magis di dunia sihir.

Adanya publik yang menyukai karya dari penulis asing mengindikasikan bahwa jangkauan pembaca fiksi cukup luas. Lebih lagi, karya fiksi asing memiliki spektrum genre yang beragam. Karya klasiknya juga masih digemari dan dijadikan rujukan hingga kini. Misalnya saja “Don Quixote” karya Miguel de Cervantes, “Moby Dick” karya Herman Melville, dan “War and Peace” karya Leo Tolstoy.

Dari sisi konten, publik menaruh perhatian lebih pada tema atau judul karya fiksi dibandingkan indikator lain seperti nama penulis, ulasan-ulasan karya di media sosial, maupun harga buku. Keadaan ini dapat berarti bahwa karya fiksi memilki ruang eksplorasi yang luas terkait minat baca. Laku tidaknya sebuah buku fiksi tidak melulu bergantung pada ketenaran penulis ataupun harga yang murah.

Zaman Digital

Kemudahan akses internet saat ini ternyata tidak memengaruhi minat publik untuk beralih media dalam membaca buku. Sebanyak 62,2 persen publik masih bertahan dengan membaca melalui buku cetak dibandingkan buku digital (e-book). Keadaan ini sejalan dengan fakta bahwa mayoritas publik masih tertarik mengunjungi pameran buku konvesional dan belum tertarik untuk membeli atau meminjam buku secara daring.

content

Zaman digital sudah sangat terbukti membuat orang menghemat tenaga untuk banyak aktivitas. Hanya duduk di depan monitor dan semua terselesaikan: belanja, membayar tagihan, mengakses informasi. Meski demikian, hasil jajak pendapat membuktikan bahwa 67,6 persen publik masih tertarik untuk datang ke pameran dibandingkan membeli buku secara daring. Alasan utamanya untuk menambah referensi bacaan dan menemukan buku-buku terbitan baru.

Sementara itu, pemerintah tengah menggalakkan perpustakaan digital dan menggratiskan peminjamannya. Perpustakaan nasional misalnya, memberikan akses secara gratis dan berjangka untuk meminjam buku-buku dalam format e-book. Akan tetapi, hasil jajak pendapat Kompas pada 20-22 Juli menunjukkan sebanyak 82,2 persen publik mengaku belum pernah meminjam atau bahkan membaca buku melalui perpustakaan berbasis digital yang secara teknis memudahkan peminjaman buku.

Masih adanya minat publik pada buku berbasis cetak dan antusiasme mendatangi pameran menjadi optimisme baru. Pameran menjadi wahana yang dapat mendorong budaya membaca masyarakat. Respons positif publik ini menjadi oase di tengah kekeringan asa menjadi bangsa dengan budaya baca yang baik.

Fantastic Books and Where to Find Them

Berkenalan dengan cerita rekaan (fiksi) dapat dimulai dengan membaca karya-karya yang memenangkan penghargaan. Di Indonesia, prosa pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa layak menjadi rujukan untuk mengenal fiksi kontemporer. Sementara di ranah internasional, buku yang menjuarai The Man Booker Prizes, merupakan jendela untuk melihat karangan-karangan terbaik penulis dari seluruh dunia. Memilih buku-buku tersebut sebagai permulaan tentu akan merentangkan bentang rasa dan memperkaya spektrum genre fiksi bagi pembacanya.

Tidak berhenti pada pemenang, fiksi lain pun patut diarungi kedalamannya. Layaknya penulis, seorang pembaca awalnya meniru buku apa yang akan dibaca sampai ia menemukan seleranya sendiri. Pembaca yang jatuh hati pada buku “Raden Mandasia dan Pencuri Daging Sapi” karya Yusi Avianto Pareanom misalnya, akan mencoba mencari karya lain dari pengarang yang sama. Pembaca akan mulai menyukai sang penulis lalu membaca buku yang sama dengan idola barunya. Begitu seterusnya.

Pilihan buku akhirnya semakin luas hingga kadang kala buku yang diminati tidak ditemukan di toko-toko buku besar. Cara menemukannya kemudian adalah dengan bergerilya di toko-toko buku indie maupun toko buku lawas. Toko-toko buku ini biasanya berada di dekat pasar tradisional atau dekat dengan kawasan kampus. Di Jakarta misalnya, kita bisa memilah-milah buku klasik di kawasan Blok M dan Terminal Pasar Senen. Buku yang diterbitkan secara mandiri pun, tidak kalah baiknya, dapat ditemukan di toko buku indie seperti Post di Pasar Santa.

Di Yogyakarta, penggemar buku lawas dapat ngubek-ngubek ¬buku di pusat buku shoping dekat Taman Budaya Yogyakarta. Sementara di Bandung terdapat toko buku indie Kineruku dan Pasar Palasari. Di Semarang toko-toko buku bekas terdapat di Pasar Johar, dan di Surabaya terletak di Kampoeng Ilmu Jalan Semarang.

Tahun The Pulitzer Prize in Fiction*
Judul Buku Pengarang
2016 The Sympathizer Viet Thanh Nguyen
2015 All the Light We Cannot See Anthony Doerr
2014 The Goldfinch Donna Tartt
2013 The Orphan Master’s Son Adam Johnson
2012 Tidak Ada Penghargaan yang Diberikan
2011 A Visit from the Goon Squad Jennifer Egan
2010 Tinkers Paul Harding
2009 Olive Kitteridge Elizabeth Strout
2008 The Brief Wondrous Life of Oscar Wao Junot Diaz
2007 The Road Cormac McCarthy

*The Pulitzer Prize in Fiction merupakan penghargaan yang diberikan setiap tahun untuk karya fiksi penulis Amerika terbaik.

 

Tahun The Man Booker Prize*
Judul Buku Pengarang
2016 The Sellout Paul Beatty
2015 A Brief History of Seven Killings Marlon James
2014 The Narrow Road to the Deep North Richard Flanagan
2013 The Luminaries Aleanor Catton
2012 Bring Up The Bodies Hilary Mantel
2011 The Sense of an Ending Julian Barnes
2010 The Finkler Question Howard Jacobson
2009 Wolf Hall Hilary Mantel
2008 The White Tiger Aravind Adiga
2007 The Gathering Anne Enright

*The Man Booker Prize adalah penghargaan untuk karya fiksi terbaik yang berbahasa Inggris dan diterbitkan di Inggris Raya. Penghargaan ini dimulai tahuin 1969 untuk mempromosikan karya-karya fiksi unggulan

Tahun Kusala Sastra Khatulistiwa*
Judul Buku Pengarang
2016 Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi Yusi Avianto Pareanom
2015 Isinga: Riman Papua Dorothea Rosa Herliany
2014 Semua Untuk Hindia Iksaka Banu
2013 Pulang Leila S. Chudori
2012 Maryam Okky Madasari
2011 Lampuki Arafat Nur
2010 Rahasia Selma: Kumpulan Cerita Linda Christanty
2009 Lembata: Sebuah Novel F. Rahardi
2008 Bilangan Fu Ayu Utami
2007 Perantau Gus tf Sakai

*Kusala Sastra Khatulistiwa adalah penghargaan tahunan yang diberikan kepada penulis dengan karya prosa dan puisi terbaik. Penganugrahan ini diinisiasi oleh Richard Oh dan telah berjalan selama 16 tahun.

Manfaat Lebih

Era digital yang khas dengan percakapan cepat dan singkat membutuhkan kemampuan berekspresi yang presisi. Jika tidak, orang bisa salah sangka dan salah paham. Disadari atau tidak, kemampuan ini dapat diasah dengan sering membaca fiksi. Membaca fiksi bisa meningkatkan penguasaan terhadap kosa kata dan menghasilkan ekspresi lewat kata-kata yang tepat. Manfaat kedua adalah meningkatkan simpati dan empati. Menurut suatu studi dari Universitas Emory, Atlanta, AS, membaca fiksi dapat meningkatkan ketrampilan sosial menjadi baik dan secara temporer meningkatkan kemampuan untuk berimajinasi dan memahami kondisi-kondisi orang lain.

Selain manfaat yang sangat relevan dengan keadaan saat ini, membaca fiksi juga bermanfaat untuk memahami sejarah dengan cara yang berbeda. Fiksi bisa dijadikan pilihan untuk mempelajari sejarah yang biasanya ditulis berat dan membosankan. Penulis Indonesia seperti mendiang Pramoedya Ananta Toer atau Iksaka Banu misalnya, berupaya menghadirkan situasi imajinatif pada masa kolonial yang bersandar pada fakta sejarah. Dalam ketiga belas cerita pendeknya, Iksaka menunjukkan babak-babak penting dalam sejarah Hindia Timur. Latar historisnya fakta, namun situasinya imajinatif dan tokohnya fiktif.

Pada akhirnya, respons publik yang cukup baik seputar dunia perbukuan adalah obor untuk memulai perjuangan meningkatkan daya literasi masyarakat. Tentunya dengan dukungan aktor-aktor produksi seperti penulis, penerbit, dan distributor. Buku masih sangat relevan menyandang predikat jendela ilmu, bagaimanapun dahsyatnya distraksi yang ditimbulkan oleh perkembangan media digital saat ini.

Sebelumnya dimuat di Kompas edisi 9 Desember 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s