Teaser: Palaistina

Orang-orang Palestina dan Israel bersaudara. Sulit dimengerti mengapa dua kelompok masyarakat ini ingin meniadakan eksistensi kemanusiaan satu sama lain. Kaum Yahudi mengklaim tanah yang sekarang diperebutkan berdasarkan pada janji yang ada dalam kitab suci kepada Abraham dan para keturunannya. Padahal, kalau Arab mengajukan argumen-argumen biblis, mereka juga adalah keturunan Abraham.

Sekitar 3.000 tahun sebelum masehi, tersebutlah tanah Kanaan. Tanah ini merupakan tempat tinggal suku bangsa Kanaan. Dominasi suku ini mulai berkurang ketika kaum imigran Semit dari wilayah Mesopotamia mendatangi Kanaan. Para imigran kemudian dikenal sebagai kelompok Ivrim yang artinya “keturunan Ever” nenek moyang Abraham. Sementara kaum Ivrim menyebut diri mereka sendiri dengan Israel. Israel yang berarti “dia yang sudah bergulat melawan Tuhan”. Tanah Kanaan itulah Palestina kini.

Di lain cakrawala, keturunan Semit dari Suriah Hyksos sekitar tahun 1650 SM menguasai delta Sungai Nil dan mendesak raja pribumi Mesir Thebes ke pedalaman. Namun, sekitar tahun 1570 SM, sebuah revolusi kaum pribumi di bawah pimpinan keturunan Thebes berhasil menjatuhkan kekuasaan Hyksos. Di zaman militerisme Firaun Rameses II (1220-1165), kaum Hyksos hidup dalam penderitaan dan menjadi pengungsi-gelandangan yang disebut “apiru”.

Apiru dianggap sebagai asal usul nama Hibrani. Musa, salah seorang pemimpin apiru Semit itu, kemudian menjadi penyelamat dengan membawa para Hyksos pulang ke tanah semula di Kanaan, yang diyakini sebagai ‘Tanah Terjanji’. Diperkirakan, mereka kembali ke Kanaan sekitar tahun 1200 SM.

Bersamaan dengan masuknya para Apiru ke Kanaan, datang pula sebuah invasi besar dari “bangsa-bangsa laut”. Mereka berasal dari Pulau Kreta di Laut Tengah, diantaranya suku bangsa Filistin, Edom, Moab, dan Ammon.

Kaum Filistin segera menduduki wilayah pantai barat daya Kanaan, yang kini dikenal dengan Jalur Gaza. Para penguasa Yunani kemudian menyebut seluruh wilayah di daratan tersebut sebagai Palaistina, yang merupakan sebuah lafal Yunani dari kata Hibrani Pleshet (Tanah Suku Filistin). Sebutan itu dipakai juga oleh penguasa Romawi yang menggantikan Yunani, dan bahkan dihidupkan kembali sesudah Perang Dunia I guna menyebut wilayah bekas Kanaan itu.

Hingga tahun 1948, wilayah yang diklaim oleh kedua belah pihak (Palestina dan Israel), secara internasional dikenal sebagai Palestina. Akan tetapi, setelah pecah perang tahun 1948-1949, wilayah itu dibagi menjadi tiga bagian, yaitu negara Israel, Tepi Barat, dan Jalur Gaza.

…to be continued

Disarikan dari liputan Kompas ­dengan kata kunci Konflik Palestina-Israel.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s