Teodise

Minggu lalu saya bertemu seorang kawan yang baru saja menerbitkan buku di sebuah kafe franchise yang sebetulnya sangat saya hindari: biar gak dicap kelas menengah tuna-pegetahuan. Bliyo pulang, saya habiskan dua jam berikutnya dengan membaca bukunya.

Adalah Leibniz, pemikir zaman modern yang berbicara soal teodise. Teodise adalah istilah Leibniz bagi usaha untuk menjelaskan adanya kejahatan di hadapan kemahakuasaan dan kemahabaikan Tuhan.

Teodise Leibniz sampai pada kesimpulan bahwa pertanggungjawaban atas hadirnya kejahatan haruslah dituntut dari diri manusia, bukan pada dunia apalagi Tuhan. Tuhan telah merancang ciptanyaan dengan ukuran yang presisi sehingga dunia aktual ini adalah yang terbaik dari kemungkinan dunia lainnya.

Bagi awam macam saya, teodise memberikan harapan untuk memahami keresahan-keresahan umum, seperti kenapa patah hati itu harus ada. Sepanjang sejarah umat manusia, selalu ada masa yang tidak membahagiakan dan menimbulkan penderitaan. Perang ke perang, tragedi ke tragedi, atau yang lebih personal, yaa..patah hati itu tadi.

Penderitaan manusia adalah kejahatan yang relevan dengan diskursus teodise Leibniz. Itu mengapa, tragedi percintaan kawan saya, seorang jurnalis surat kabar bisnis, dapat dipastikan bukanlah kesalahan Tuhan. Tidak diberinya paras seperti Lea Seydoux atau Gal Gadot misalnya, bukanlah penyebab Mas Pacar mengkhianatinya sampai empat kali.

Kolega saya ini telah berulang kali menerima kembali pacarnya yang minggat ke hati perempuan lain. Kesetiaannya kering sudah diisap Kepinding yang saat ini sedang menjalin asmara bejatnya yang keempat. Tapi ya gimana lagi, cinta adalah bentuk penderitaan lain yang setiap detik kita rawat dengan militan. Tapi sungguh, penderitaan itu bukan karena Tuhan.

Seturut dengan Leibniz, kehendak bebas manusialah yang menjadi celah bagi masuknya kejahatan di dunia ini, khususnya kejahatan moral yang selalu menyebabkan penderitaan makhluk rasional. Kehendak menyakiti, kehendak mendeskriminasi, kehendak menghujat, dan kehendak bahwa hanya dirinyalah yang paling benar.

Syahdan di Jakarta yang diguyur hujan kuah indomie, saya dan kawan saya yang empat kali ditelikung itu hanya bisa menunggu datangnya kereta. Ya, kejahatan bukanlah sesuatu, tapi merupakan tiadanya sesuatu. Jika tragedi terus terjadi, jika saling menistakan dan menghujat masih terjadi, itu bukan karena adanya kejahatan, namun karena tidak hadirnya kebaikan. Di tengah bulan yang masih jauh dari tanggal gajian ini, saya  ingin bernyanyi All By My Self sambil ngunyah kesendirian.

Tabique,
Arita

*Belum pernah dimuat di mana pun karena kualitas penulisan yang menyedihkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s